Defensive Error Tak Hanya Milik Pepe Reina

imgsource: fourfourtwo.com

“Jual Reina”, “Pepe Out!”, “Pepe Reina sudah tidak pantas untuk LFC”. Ungkapan-ungkapan seperti itulah yang akhir-akhir ini kerap sekali muncul di timeline twitter saya. Menurunnya prosentase shot saved ratio Pepe Reina di musim ini adalah pemicu kekhawatiran sebagian fans LFC, hingga puncaknya pada pertandingan melawan Manchester City yang berakhir imbang karena blunder Pepe Reina.

Pepe Reina, yang menurut saya, salah satu dari lima penjaga gawang terbaik di dunia kini sedang mengalami masa-masa kritis karena drastisnya penurunan performa di lapangan. Ya, Pepe Reina sang peraih 3 golden gloves di empat musim pertamanya berlaga di Barclays Premier League bersama Liverpool kini jadi korban bully pemain lawan dan sebagian fans LFC di dunia maya. Dan kini, sebagian fans LFC menganggap Pepe Reina sudah tidak pantas dan patut untuk dilego.

Salah satu twit terlaris pasca gol Aguero menyongsong blunder Reina yang menyebabkan Liverpool gagal meraih 3 poin di Etihad Stadium adalah :

Reina‘s mistakes cost Liverpool 14 points this season. Without those faults, Liverpool would be in the 3rd place. (OptaStats)

14 poin? Benarkah demikian? Setelah membaca web EPL Index, saya percaya bahwa kesalahan Pepe Reina yang berakibat pada bobolnya gawang Liverpool sejauh musim ini berlangsung hanya mengakibatkan Liverpool merugi 3 poin. Dengan asumsi skor pertandingan masih tetap sama sebelum Pepe Reina melakukan blunder yang mengakibatkan gol.

imgsource : EPL Index (before Man City match)

1. Melawan Arsenal di Anfield
Sebelum Pepe Reina melakukan kesalahan yang berakibat gol, skor pertandingan adalah 0-1. Asumsinya adalah, walaupun Pepe Reina tidak melakukan blunder yang berakibat skor menjadi 0-2, The Reds tetap menelan kekalahan dari Arsenal. (0 poin)
2. Melawan Norwich di Carrow Road
Liverpool tetap memenangkan pertandingan. (o poin)
3. Melawan Tottenham Hotspurs di White Hart Line
Skor pertandingan adalah 1-1 sebelum Pepe Reina melakukan blunder, dan pertandingan berakhir dengan skor 2-1. (1 poin)
4. Melawan Manchester City di Etihad Stadium
Skor awal adalah 2-1 sebelum Pepe Reina melakukan blunder yang dimanfaatkan oleh Aguero sehingga merubah keadaan menjadi 2-2. (2 poin)

Dari daftar dosa Pepe Reina musim ini tersebut bisa diketahui bahwa Pepe Reina hanya membuat Liverpool merugi 3 poin. Masih berhubungan dengan kerapnya individual eror yang berujung pada tidak maksimalnya poin-poin Liverpool di BPL, lalu bagaimana dengan peran defensive error?

Berdasarkan statistik di web EPL Index dan menghasilkan fakta bahwa hanya sembilan pemain di BPL yang melakukan lima atau lebih blunder/error, dan ada 3 pemain dari Liverpool. Mereka adalah Reina, Joe Allen, dan Martin Skrtel yang masing-masing membuat 5 total blunder. Pepe Reina di urutan teratas dalam melakukan blunder yang berakibat gol. Tiga dari lima blunder Pepe Reina berakibat gol. Sedangkan 2 dari 5 blunder Skrtel mengakibatkan gol, dan Joe Allen yang membuat 5 blunder namun hanya mengakibatkan 5 tendangan ke gawang Liverpool tanpa adanya gol. Joe Allen yang sebelumnya tidak pernah melakukan satupun defensive error ketika membela Swansea musim lalu, kini harus menelan kenyataan bahwa dia sudah melakukan 5 defensive eror pada 11 pertandingan terakhir untuk Liverpool.

Masih menurut EPL Index, tercatat 9 gol ke gawang Liverpool musim ini adalah buah dari 32 individual eror para pemain Liverpool. Credit untuk Agger dan Johnson yang sejauh ini hanya mencatatkan satu individual error jika dibandingkan dengan Gerrard (2) dan Lucas (3). Kembali ke Pepe Reina. Jika mengacu pada data mulai musim 2008/2009 hingga saat ini, blunder yang dibuat oleh Pepe Reina hanya mengakibatkan Liverpool kehilangan 6 poin. 14 point this season? me arse.

Saya setuju bahwa Reina mengalami penurunan prosentase saved shot ratio. Ya, Reina mengalami penurunan performa akhir-akhir musim ini. Namun, apakah lantas disebut adil ketika setiap kekalahan demi kekalahan dan setiap poin yang hilang harus dibebankan di pundak seorang Reina? Well, mungkin tidak ada yang adil didunia ini.

Kesalahan demi kesalahan dilakukan oleh beberapa pemain Liverpool musim ini, tidak hanya Pepe Reina. Salah satu faktor yang dapat dilakukan adalah mengeleminir individual errors secara kolektif jika Liverpool ingin terus mengalami tren positif. Win, draw, lose as a team.

Saya bukan tipe fans yang gemar memberi kuliah tentang The Kop Pledge, karena saya juga masih sering misuh ketika seorang pemain LFC melakukan kesalahan yang berakibat fatal untuk keseluruhan tim. Saya juga misuh ketika Gerrard memberi assist ke Henry di FA Cup. Namun, alangkah bijaknya tidak menyerang pemain tersebut secara membabi buta dan terus menerus week in – week out, apalagi melihat banyak faktor secara keseluruhan yang membuat performa tim menurun.

Saya juga bukan tipe fans yang selalu mengutip quote pelatih legendaris LFC, Bill Shankly, yang mengatakan bahwa “If you can’t support us when we lose or draw , don’t support us when we win.”, ketika melihat seseorang mengungkapkan kekecewaannya pada hasil pertandingan. Karena saya juga terkadang berlebihan dalam mengungkapkan kekecewaan. Namun, alangkah lebih baiknya kalo mudah move on. Satu hasil buruk bukan berarti akhir dunia. Pemain-pemain Liverpool membutuhkan support dari kita, fans-fans Liverpool, untuk mengawal mereka bertarung di lapangan hijau. Percayalah pada term “At the end of the storm, there is a golden sky.”

Namun saya adalah fans yang gemar pada quote King Kenny Dalglish, “When We Stand Together As A Family We Can Achieve Great Things”. Ya, kekecewaan sesaat adalah manusiawi. Jangan biarkan kekecewaan berlarut-larut sehingga berujung pada saling tuding antar fans LFC hanya demi mencari kambing hitam hasil kekalahan. Memberi dukungan adalah hakekat seorang fans, supporter, simpatisan, atau apapun istilahnya. Ketika seorang pemain mengalami hari buruk, tell him that we can do it better next time. Karena itulah yang membuat fans dan supporter Liverpool istimewa. Itulah yang membuat fans Liverpool berbeda dari yang lain. Itulah mengapa kita ditakdirkan menjadi Kopites. Ya, itulah kita, The Famous Kopites.

You’ll Never Walk Alone.

imgsource : guardian.co.uk

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.