Patrice Evra, Fekkin Disgrace

Patrice Evra, Kapten Manchester United yang juga pernah menjadi Kapten Timnas Perancis melakukan perayaan memalukan atas gelar juara Liga Inggris yang diraih oleh Manchester United musim ini. El Negrito ini menyempatkan diri untuk melakukan provokasi kepada Luis Suarez dengan gesture menggigit tangan palsu di akhir pertandingan yang memastikan United merengkuh gelar Liga Inggris yang ke-20. Gesture Evra ini justru menjadi topik panas dan justru menenggelamkan raihan United yang merebut gelar Liga Inggris dari rival sekota mereka. Attention seeker, eh?

Patrice Evra

Evra melakukan hal tersebut menanggapi kasus gigitan Suarez kepada Ivanovic di laga akhir pekan Liga Inggris yang lalu. Tindakan ini adalah buah “dendam” Evra yang mengklaim dirinya adalah korban rasisme dari perkataan Suarez, walaupun hingga detik ini FA tidak sanggup membeberkan bukti video perkataan rasis Suarez kepada Evra. Hukuman dilarang bermain 8 pertandingan yang dijatuhkan kepada Suarez hanya buah klaim Evra sebagai korban. Ajaib.

Tak berhenti sampai disitu, seakan pers dan media (paling tidak Sky Sports) bagai bocah yang sedang keasyikan menonton sirkus dengan menikmati pertunjukan tersebut. Pun pihak FA yang tampak adem ayem melihat gesture Evra yang disiarkan langsung dan ditonton jutaan pasang mata tersebut. Berbanding terbalik dengan perlakuan FA, media, dan pundit sepakbola Inggris dalam menyikapi dukungan pemain-pemain Liverpool untuk Suarez dengan mengenakan kaos Suarez ketika pemanasan di lapangan. Kala itu FA, media, dan pundit sepakbola Inggris banyak yang menyayangkan sikap pemain-pemain Liverpool. Mereka ditakutkan akan melegitimasi rasisme masuk ke ranah sepakbola, walaupun, sekali lagi FA hingga detik ini tidak dapat menyampaikan bukti selain klaim Evra.

Kembali ke pembahasan gestur Evra, pemain legam ini seakan tak pernah bertobat dalam memprovokasi lawan-lawannya. Pada tahun 2008, Evra juga pernah bersitegang dengan seorang groundsman Chelsea di Stamford Bridge. Kala itu, Carlos Tevez yang masih memperkuat Manchester United bersikukuh membela Evra bahwa sebenarnya Evra lah yang menjadi korban karena sang groundsman terlebih dahulu memprovokasi Evra sebelum terjadi insiden tersebut. Well, Carlos, picture tell thousand words isn’t it?

Selalu bertindak sebagai korban nampaknya adalah modus operandi Evra. Insiden jabat tangan dengan Suarez menjadi salah satu contohnya. Evra yang acuh tak acuh dan seakan nyuekin sodoran tangan Suarez, berkoar-koar kepada dunia bahwa Suarez tidak mau berjabat tangan dengannya.

Mengetahui kedekatan klubnya dengan asosiasi sepakbola tertinggi Inggris, Evra seakan tak mau melepas kesempatan itu. Tindakan yang sangat jauh dari suri tauladan seorang kapten, dimana kapten tim biasanya adalah seorang role-model bagi rekan-rekannya baik di lapangan maupun di luar lapangan. Evra nampak jauh dari itu.

Rivalitas adalah hal yang biasa di dunia sepakbola. Banter, debat, flame, perang chants adalah suatu dinamika dalam industri si kulit bundar. Biasanya, hal tersebut dilakukan oleh suporter atau fans yang mengkultuskan tim sepakbola favorit mereka. Tak bisa dihindari, pemain sebagai aktor di lapangan acapkali juga terbuai oleh suasana dan nyanyian magis para jamaah yang setia mendukung mereka di tiap laga sehingga tak jarang kehilangan kendali dan kesadaran mereka bahwa mereka adalah seorang pemain sepakbola profesional. Ya, pemain sepakbola yang diidolakan oleh semua kalangan. Tua, muda, pria, wanita. Dan sebagai seorang profesional, nampaknya Evra gagal dalam hal professional attitude.

Jangankan kepada klub atau pemain rival, mantan rekan satu timnya pun juga pernah menjadi korban provokasinya. Adalah seorang Dimitar Berbatov yang kini sudah berbaju Fulham, pernah merasakan kelicikan bek kiri keling itu. Kejadian tersebut terjadi ketika Manchester United berhasil mencukur Fulham 4-1 di Old Trafford. Nampak Evra mengejek Berbatov ketika Berbatov meninggalkan lapangan di akhir pertandingan.

Di kancah internasional, Evra mencatatkan tinta merah di rapor-nya sebagai pemain dan kapten Timnas Perancis. Patrice Evra dihukum oleh Federasi Sepakbola Perancis (FFF) 5 pertandingan setelah memprovokasi teman-temannya agar mangkir dari pusat latihan di Piala Dunia Afrika Selatan setelah Nicolas Anelka dikeluarkan dari tim karena adu mulut dengan pelatih Perancis saat itu, Raymond Domenech. Pemain Legenda Perancis, Lilian Thuram sempat berkomentar atas kasus ini. Thuram justru menanggapi bahwa seharusnya Evra dihukum seumur hidup untuk tidak membela Timnas Perancis lagi. Pemain pemegang 142 caps untuk Timnas Perancis ini menambahkan bahwa ketika seorang pemain menjadi Kapten Timnas Perancis, maka pemain tersebut harus punya tanggung jawab atas seragamnya (negaranya-red) dan juga semua orang (pendukung Perancis-red). Thuram, yang juga membawa Perancis menjuarai Piala Dunia 1998, Piala Eropa 2000, dan Piala Konfederasi 2003 ini mengungkapkan bahwa ketika pemain-pemain mangkir latihan, maka mereka sudah tidak menghormati pelatih. Dia menambahkan, bahwa dalam sebuah kelompok selalu ada pemimpin dan orang-orang yang mengikutinya, dan juga ada orang-orang yang tidak setuju namun tidak berani berkata tidak.

Dengan torehan seperti itu, pantaskah Evra menjadi seorang kapten? No. He is not a captain, he is a cunt.

3 Comments

    • betul sekali.
      saya tidak membenarkan aksi Suarez menyerang Ivanovic. Namun Suarez telah minta maaf kepada Ivanovic dan sepertinya akan berhadapan dengan hukuman larangan bertanding sampai akhir musim.

      Evra? jauh dari kata profesional.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.