Liverpool : Losing My Perspective

Sebuah artikel menarik tentang perspektif seorang fans Liverpool yang sudah dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia. Berikut adalah artikelnya :

LIVERPOOL : LOSING MY PERSPECTIVE

The Boot Room
The Boot Room

Kita selalu diberitahu bahwa kita harus mempertahankan akal sehat, namun belum ada yang bisa menjelaskan  bagaimana akal sehat itu. Perspektif yang gigih dan selalu optimis akan jauh berbeda dari seorang yang berkomitmen sebagai penyinyir dan selalu mencari kesalahan dan tampaknya sia-sia mencoba untuk membangun setiap kesamaan antara pandangan dan nilai-nilai yang masing-masing mereka pegang. Biasanya, mereka hanya akan berakhir dengan perseteruan dan saling mencela satu dengan yang lainnya di media sosial dan internet.

Untuk menambah pelik permasalahan, perspektif berubah seiring dengan jalannya waktu. Contoh: pada tahun 90an, saat itu sangat sulit untuk membayangkan bahwa tim  Liverpool tidak memenangkan gelar liga. Bayangkan, kita baru saja mengamankan gelar juara kesepuluh dalam lima belas musim dan telah mendirikan sebuah dominasi yang sebelumnya tidak terlihat di pertandingan domestik. Perspektif adalah piala perak mengkilap dengan pita merah terikat padanya.

Sebaliknya, untuk Manchester United perspektif penggemar mereka saat itu  adalah serangkaian kekecewaan yang berkesinambungan. Sudah 23 tahun sejak Best, Law, Charlton mempersembahkan kemenangan terakhir mereka yang mengahasilkan gelar, tahun 1967. Busby telah lama hilang, Atkinson merupakan produk gagal dan Ferguson hanya lolos dari pemecatan karena memenangkan Piala FA. Hanya seorang pemberani, atau bisa dikaktakan gila, untuk memprediksi pembalikan tatanan tersebut  dalam waktu singkat.

23 tahun. Bahkan lebih dari  sejak April sore yang cerah pada tahun 1990 ketika Liverpool dinobatkan juara terakhir kali. Pada periode yang sama United telah memenangkan tiga belas gelar, menggunakan campuran halus dari akal, kepongahan , santet dan bahkan mungkin pengorbanan manusia. Dan dalam semua cakupan, karena mereka menjadi sangat baik untuk memenangkan pertandingan sepak bola. Dan rasanya seperti menelan tongkat buat kita bukan?

Saya masih ingat  rasanya di era 80-an. Dimana Tahun demi tahun kita tahu bahwa kita akan menjadi unggulan untuk menjuarai liga dan, jika kita bermain dengan potensi yang kita punya,  maka kemungkinan kita akan menyelesaikan musim dengan menjadi Juara. Villa, Ipswich, Everton, Arsenal – mereka semua berkesempatan saat-saat mereka semua mengancam akan pesta akhir musim kita. Tapi kita berhasil kembai mengungguli dan mengatasi mereka. Sementara itu, kekeringan gelar Old Trafford itu diperpanjang setiap musim lagi, dan lagi. Bagaimana kita menertawakan kemalangan mereka, mencemooh prestasi mereka dan merayakan kemenangan kita diatas kehancuran mereka.
Tidak ada yang menyangka bahwa itu semua akan berakhir akhir. Tapi tidak juga. Sungguh, kita mungkin punya beberapa kekhawatiran dengan cara kemenangan kita di musim ’89-90. Beberapa kalangan tiba tiba saja juga mulai mempertanyakan penilaian Kenny, sebuah kerumunan kecil di Anfield  semakin gelisah mulai menyuarakan keresahan nya. Tapi, dengan satu-satunya tantangan nyata datang dari tim Aston Villa yang tiba2 saja menjadi bagus, Liverpool melakukan apa yang dibutuhkan tanpa pernah mencapai kemampuan menghancurkan dua musim sebelumnya, ketika Barnes, Beardsley dan Aldridge robek pertahanan di seluruh tim di liga.

Jika pada suatu titik yang tepat, seseorang dari masa depan muncul seperti Arnie di The Terminator, untuk memperingatkan kita bahwa kita akan terjun ke padang gurun selama 23 tahun yang suram, dan bahwa kekuatan jahat, yang telah terbengkalai sementara kita berpesta, akan segera membentuk pemerintahan teror yang akan menguasai bumi, tentu kita akan bersiap-siap dan menjaganya di tempat  aman dan menyembunyikan kunci di dalam vas atau sesuatu yang lain. Saya tidak tahu. Saya belum benar-benar memikirkan hal ini. Kami pasti telah akan menyuruhnya untuk bersiap siap.
Efektif,dan  itulah yang terjadi. Bukan hal-hal konyol itu. Itu akan mengerikan. Tapi hal masa kemarau gelar dan teror yang disebarkan oleh si hidung merah Ferguson. Mereka menjadi kenyataan jelek. Dan kami rasa perspektif tidak pernah pulih.
Kebanyakan orang menyalahkan Graeme Souness. Dan jujur saja, mereka akan memiliki alasan yang kuat. Meskipun merupakan calon yang jelas untuk menggantikan Dalglish ketika tekanan Hillsborough akhirnya mengambil korban,  Souness lalai mengantisipasi perubahan seismik dari kedua budaya klub dan personilnya, Skuad yang mulai menua dan pembatasan baru pada jumlah pemain non-Inggris, dikombinasikan dengan kepuasan berlebih, yang harusnya memerlukan tindakan antisipasi yang tepat. Tapi keputusan yang diambil, pemain yang didatangkan serta metode abrasive yang digunakan untuk mengkungkung orang di luar kehendaknya, yang kemudian terjadi adalah dalam dua musim Souness dan Liverpool telah kehilangan atmosfir  tak terkalahkan yang telah tetera di klub begitu lama.

Ketika asap mulai terkuak , yang tersisa dengan Liverpool adalah Liverpool yang biasa-biasa saja, yang bisa kalah dan terluka layaknya manusai normal. Hal ini diperparah dengan United akhirnya mendapatkan performa yang baik dan cepat untuk memanfaatkan status Liga Premier yang baru dibentuk dan Murdoch yang mendanai sebagai cukongnya, Saat itu merupakan saat dimana semuanya menjadi semakin buruk.

Yang paling menyakitkan adalah saat kita tersadar bahwa harapan kita harus disesuaikan. Meskipun kita masih mengharapkan supremasi “si merah”, kenyataan pahit memiliki kebiasaan menyakitkan.  Meski kita berjuang dengan harapan namun menjaga tingkat perspektif yang mencerminkan posisi kita, kitapun tersadar bahwa hal-hal telah berubah. Tidak ada jalan kembali, ini adalah masa depan kita dan ini buruk! Sangat Buruk!
Seiring waktu dan tahun berlalu, kita mulai terbiasa dengan keadaan kita. Roy Evans sempat membuat kita berharap bahwa kita bisa menutup kesenjangan. Dia membuat gaya cerah, sepak bola progresif yang menarik bagi rasa estetika kita, tetapi yang tidak memiliki pragmatisme baja pesaing sejati. Mentalitas pemenang yang telah menggarisbawahi dominasi kita telah digantikan oleh kerapuhan, kita harus berjuang untuk mengatasi kerapuhan mental.

Houllier juga membuat kita bermimpi akan kebangkitan. Dia mengingatkan kita terhadap bagaimana rasanya pemenang, membangun dasar yang kuat dan membawa kita kembali ke peringkat kedua dalam klasmen. Tapi kita tidak dapat menyelesaikan sentuhan terakhir, dan pada akhirnya kembali kepada cerita menyia-nyiakan kesempatan dan berujung kekecewaan.
Dengan Benitez, sedikit berbeda. Dengan membawakita sukses di Eropa, ia menunjukkan bahwa ia siap untuk menantang tantangan terbesar dan tersulit. Dia meyakinkan kita bahwa kita tidak perlu takut dan, hanya untuk membuktikan hal itu, ia melawan Mourinho dan Ferguson pada permainan mereka sendiri dan membuat mereka terguncang. Untuk mungkin satu-satunya waktu sejak tahun 1990, kami melihat dorongan untuk meraih gelar dan, gol Benayoun di Craven Cottage membawa kita memuncaki klasmen dengan tujuh pertandingan tersisa, kita benar benar percaya. Kali ini benar-benar di buat percaya.

Kita semua tahu apa yang terjadi. Meskipun klise, sulit untuk melihat kegagalan sebagai hal yang baik. Tetapi demi Tuhan, kita hampir saja berhasil. Hanya empat poin memisahkan kita dari gelar juara. Untuk sekali kita berhak untuk membiarkan perspektif bermain dengan kita. Kita telah kembali dan penobatan kita sebagai juara itu hanya ditunda, bukan dibatalkan.

Steven Gerrard
Namun lagi lagi seiring jalannya waktu bertahun-tahun, perspektif bisa kembali tergelincir. Dan, hampir pasti, kita segera dibawa kembali ke titik nadir, seperti anjing nakal yang baru saja mengotori karpet.
Apa yang datang berikutnya adalah tingkat tertinggi dalam manajemen harapan. Hicks dan Gillett, merusak klub bagai Apocalypse hampir kiamat, membawa klub jatuh berlutut. Hodgson, digadang sebagai pilihan yang aman, namun mendapat kecaman dari semua penjuru. Kenny kembali untuk menstabilkan kapal dan mengembalikan kebanggaan kita, tapi kemudian runtu oleh kombinasi hasil yang buruk, transaksi transfer buruk yang dirasakan dan tergesa-gesa serta keraguan para eksekutif. Mengingat bahwa bahkan beberapa dari pendukung kita sendiri melemparkan cacian ditujukan legenda hidup terbesar kita, maka mudah untuk menyimpulkan bahwa ia lebih baik keluar dan meninggalkan semua itu.

Sekarang giliran Brendan Rodgers untuk melihat apakah ia dapat mengakhiri penantian kita . Kita semua tahu itu merupakan permintaan yang sangat besar. Seiring dimulainya musim, kita tidak hanya melawan tim tim berkekuatan tradisional, United dan Arsenal, atau raksasa uang Chelsea dan City. Ada juga Tottenham yang bersemangat untuk bersaing, belum lagi tetangga yang semakin kompetitif. Di tengah semacam oposisi, tidak banyak orang melihat kami sebagai  penantang gelar yang serius.

Seperti kita ketahui, semua kini telah berubah. United telah “ter-Moyes-kan” atau jatuh dan terlupakan, Tottenham telah membuktikan bahwa menjual  aset terbesar Anda tiba-tiba bisa menjadi bumerang, Everton telah berjuang untuk mempertahankan bentuk awal musim mereka namun menderita dengan kekurangan kualitas.

Kita  telah berjuang kembali ke persaingan sesungguhnya, memainkan sepakbola yang sangat baik, tajam, efektif, dan yang sejalan dengan tradisi klub. Kita kini telah menunjukkan konsistensi dan kreativitas yang sering kurang di masa lalu. Kita terlihat mampu memenangkan pertandingan apapun dengan hasil yang luar biasa, siapapun lawannya tidak perlu cendekiawan,  atau Andy Townsend, untuk menunjukkan bahwa itu adalah dasar yang kokoh bagi tim mana pun untuk dimiliki. Dan kita punya manajer dengan penuh keyakinan dan kaya imajinasi, yang telah sepenuhnya membawa  etos kerja ke Liverpool dan yang memiliki karunia langka yaitu mengeluarkan yang terbaik dari para pemainnya.

Masukan semua itu dalam perhitungan, bersandar dan mari kita lihat bersama dimana perjalanan gila ini akan berakhir. Ya, kami sudah pernah melihat yang gila sebelumnya. Kami telah menjadi ahli dalam mencari jarum dalam jerami. Tapi bukankah itu memang  sepak bola seharusnya? Ekspetasi? Harapan? Berani bermimpi?
Saya sendiri sudah lelah dan tak mau lagi berbaring di selokan. Anda hanya akan berakhir dengan sakit punggung dan celana kotor. Mari kita gantungkan harapan setinggi langit  bersama bintang-bintang. Mari kita memutuskan bahwa ini adalah tahun kita dan pergi berusaha untuk mewujudkannya. Mari kita menangi liga. Apa hal terburuk yang bisa terjadi? Jangan menjawab pertanyaan itu.

Saya, saya pribadi membuang rasa perspektif di sebuah danau. Setelah bertahun-tahun, saya sudah sadar bahwa saya tidak membutuhkannya lagi. Tim Liverpool ini telah memberi kita satu tatanan baru dengan pertanyaan ‘bagaimana jika’ dan tidak ada gunanya menjadi pesimis. Kami punya kekuatan untuk menang saat ini
Sungguh terasa menyenangkan bukan?

Dialih Bahasakan oleh John Tobing (@jtob135)  dengan sedikit editorial oleh D D S (@takur_singh) dari artikel THE ANFIELD WRAP : /bit.ly/1cZxJDr

original writer : (@66zimbo)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.