Liverpool, Hope For The Best & Prepare For The Worst

Luis Suarez Want To Leave
Luis Suarez Want To Leave

Liverpool FC kini menjadi buah bibir di kalangan pengamat Liga Inggris dengan mencatatkan 9 kemenangan beruntun dan belum terkalahkan di ajang Barclays Premier League pada tahun 2014 sampai dengan gameweek ke-33. Sebuah catatan mengesankan sekaligus mengejutkan karena Liverpool jelas tidak diperkirakan dalam bursa penantang serius gelar jawara BPL musim ini. Liverpool kalah pamor dengan dua tim trilyuner, Chelsea dan Manchester City, dan juga Arsenal.

Sedikit kilas balik di awal musim 2013/2014, Liverpool diguncang dengan kabar Luis Suarez yang ngotot ingin hengkang ke klub lain karena tak kunjung juga merasakan atmosfer UEFA Champions League yang sarat akan gengsi dan popularitas. Duo raksasa Spanyol, Barcelona dan Real Madrid, mengincar El Pistolero dengan harga tinggi dan jaminan merumput di stadion-stadion tenar Eropa lewat ajang UCL. Tak ketinggalan, Arsenal juga menyatakan ketertarikannya kepada Suarez. Bahkan, dikabarkan klub London tersebut sudah menawarkan 30 juta poundsterling untuk memboyong bintang Uruguay. Liverpool, sekuat tenaga untuk menahan hengkangnya striker andalan mereka. 30 juta ditolak mentah-mentah untuk seorang Suarez. Suarez bertahan di Liverpool, paling tidak untuk satu musim ini.

Luis Suarez Want To Leave
Luis Suarez Want To Leave

Transfers
Brendan Rodgers, di musim keduanya bersama Liverpool mencoba menambah kedalaman skuad di transfer window musim panas. Tak kurang dari 50 juta poundsterling digelontorkan untuk menambal berbagai posisi pemain. Mamadou Sakho didatangkan dari PSG dengan harga yang cukup mahal, 16 juta pounds. Belum cukup sampai disitu, untuk menambah stok lini belakan, Rodgers mendatangkan Tiago Ilori (7 juta pounds), Kolo Toure (free transfer) dan Aly Cissokho (loan). Dibawah mistar gawang, Rodgers melengserkan Reina dengan meminjamkannya ke Napoli dan memboyong Simon Mignolet dari Sunderland dengan harga yang diyakini bernilai 9 juta poundsterling. Tak hanya barisan pertahanan, di lini tengah juga dihadirkan muka baru yaitu Luis Alberto dari Sevilla (7 juta pounds) dan Victor Moses yang dipinjam dari Chelsea. Di lini depan, Iago Aspas diboyong dari Celta Vigo (7 juta pounds) untuk menambah opsi penyerangan dengan dipinjamkannya Fabio Borini ke Sunderland dan Andy Carroll ke West Ham. Andy Carroll akhirnya dipermanenkan oleh West Ham dengan mahar 15 juta poundsterling.

Di bursa transfer musim dingin, Rodgers hanya menjadi penonton diantara hiruk pikuknya aktifitas transfer klub-klub Eropa. Rumor hanyalah menjadi rumor. Nama yang santer merapat ke Anfield tentu saja adalah Mohammed Salah yang akhirnya dibajak Chelsea, yang mencoba mencari pengganti Juan Mata yang pindah ke Manchester United, dengan hanya selisih beberapa juta poundsterling. Tak pelak, hal ini menimbulkan keresahan diantara supporter LFC. Sebagian dari mereka menyorot pelitnya manajemen klub dalam “memberikan harga yang pantas” untuk seorang pemain. Rodgers tak ambil pusing, dia fokus meracik tim yang ada. Hubungan dengan manajemen juga terlihat harmonis, meski sampai dengan saat ini perpanjangan kontraknya masih belum lagi dibicarakan di atas meja.

Road to Big Four

Liverpool mengawali musim 2013/2014 dengan sangat khas. Inkonsisten. Bermain tanpa Luis Suarez dalam 5 pertandingan awal BPL, grafik permainan Liverpool belum begitu stabil. Melibas Manchester United dengan “The Choosen One” mereka di Anfield, namun gagal menang lawatan ke Swansea,  dan takluk dari Southampton di kandang. Menghajar West Bom 4-1 di penutupan Oktober 2013, lalu takluk dari Arsenal di awal November 2013. Mencoba bangkit dari pertandingan Arsenal, Liverpool melibas Fulham dengan skor 4-0. Namun, harus berbagi angka dengan rival satu kota, Everton, di penutupan bulan November. Bulan Desember menjadi lebih membingungkan lagi untuk tim asuhan Brendan Rodgers. Kalah secara mengejutkan oleh Hull City 3-1, namun kemudian mencatat 3 kemenangan berturut-turut termasuk dengan menghajar Tottenham dengan skor 0-5 di kandang mereka. Kekalahan Tottenham tersebut juga menjadi berakhirnya rezim Andre Villas-Boas sebagai pelatih Tottenham. Liverpool menutup tahun 2013 dengan 2 kekalahan berturut-turut dari Manchester City dan Chelsea.

Aim for The Sky
Aim for The Sky

Tahun 2014 menjadi titik balik permainan Liverpool. Tersungkur dari ajang FA Cup, seakan membuat The Reds mencurahkan segenap konsentrasi dan tenaga di kompetisi Liga. 14 laga, 12 kemenangan, dan 2 hasil imbang dicatatkan Liverpool sampai dengan tulisan ini diluncurkan. Beberapa hasil mengesankan juga tercatat di tahun ini termasuk kemenangan besar melawan Everton, melibas Manchester United di Old Trafford dengan 3 gol tanpa balas, juga menghancurkan Arsenal 5-1. Sembilan kemenangan beruntun dicatat semenjak hasi imbang melawan West Bromwich Albion. Alhasil, sampai dengan gameweek ke-33 dari total 38 gameweek Liverpool memuncaki klasemen BPL. Dengan selisih 11 poin dari Everton yang menghuni peringkat 5, Insya Alloh, Liverpool sudah hampir pasti akan berlaga di kompetisi yang seharusnya ada The Reds di dalamnya yaitu UEFA Champions League.

Aim The Title !

Harapan adalah doa. Itulah yang selalu saya pegang saat ini. Harapan untuk gelar juara liga BPL ke-19. Gelar juara yang telah lama hilang. Trofi yang sedang berkelana dan tak kunjung pulang. Doa untuk menjadi saksi mata terbayarkannya kesetiaan Steven Gerrard sang kapten, role-model, dan idola bagi seluruh elemen klub. Ya, harapan untuk menyaksikan ekspresi kegembiraan pemain legendaris itu mengangkat piala yang kemungkinan juga menjadi cinderamata terakhir dalam karirnya sebagai pemain. No one deserve BPL title than Steven Gerrard, itulah beberapa kicauan pendukung, pundit, dan pemain sepakbola professional sebagai doa agar Liverpool memenangkan kompetisi ini untuk sang skipper.

Steven Gerrard. Masa Bakti Terakhir ?
Steven Gerrard. Masa Bakti Terakhir ?

Mignolet bersinar dibawah mistar gawang, terlepas dari distribusi bolanya yang belum begitu cemerlang. Skrtel, Agger, Sakho, dan Toure yang bergantian melindungi jantung pertahanan. Johnson yang sudah pulih dari cidera. Jon Flanagan yang kian matang mengisi pos yang ditinggalkan Jose Enrique karena cidera berkepanjangan. Bahkan Flanagan mendapat nickname Red Cafu karena bek legendaris Brasil, Cafu, memuji habis-habisan penampilan local lad itu dibeberapa pertandingan terakhirnya. Henderson, Coutinho, Gerrard, Lucas, Sterling, Allen menjadi dinamo penyuplai bola dan pemutus aliran serangan lawan. Suarez – Sturridge? Siapa yang tak kenal SAS (julukan duet Suarez & Sturridge) di era sekarang ini? Sampai Gameweek 33, SAS sudah mencetak 49 gol. Suarez 29 gol, dan Sturridge 20 gol. Perolehan ini sekaligus menyamai rekor duet legendaris Blackburn Rovers yaitu Alan Sheare & Chris Sutton. Hanya duet Drogba & Lampard (Chelsea / 51 gol) dan Peter Beardsley & Andy Cole (Newcastle United / 55 gol) yang lebih banyak dari perolehan SAS tersebut.

SAS Duo
SAS Duo

Brendan Rodgers, The Gaffer!

Terima kasih Brendan Rodgers. Mungkin hanya itu yang bisa saya ucapkan melihat performa dan perolehan Liverpool musim ini. Brendan Rodgers bukanlah “Special One” atau juga bukanlah “The Choosen One“, gelar yang disematkan untuk pelatih di kedua klub sebelah, Brendan Rodgers adalah Brendan Rodgers. Tidak seperti The Special One yang spesial karena gelontoran uang minyak Rusia. Tak juga butuh julukan The Choosen One hanya karena bertahun-tahun tak mendapat gelar di klub lama lalu mendapat surat rekomendasi untuk menukangi klub raksasa. Brendan Rodgers lebih dari itu.

Brendan Rodgers
Brendan Rodgers

Kadang saya merasa Rodgers adalah gabungan dari dua pelatih legendaris LFC yaitu Rafa Benitez dan King Kenny. Disatu sisi dia adalah tactic addict, disisi lain dia sangat dekat dengan pemain. Brendan Rodgers melunturkan idealisme musim pertamanya dan menyesuaikan pola permainannya dengan sumber daya yang dimiliki saat ini. Tak hanya itu, Rodgers mengeluarkan kemampuan terbaik dari pemain-pemainnya. Sterling dan Flanagan adalah contoh nyata dengan makin matangnya permainan mereka.

Hope For The Best and Prepare For The Worst

Dengan peluang yang bagus ini, dengan semangat tim dan juga tren positif akhir-akhir ini, seyogya-nya para fans berjalan beriringan untuk mendukung tim meraih supremasi tertinggi dalam liga domestik persepakbolaan Inggris. Bukan malah menyebar opini negatif berselimut pesimis dengan kedok anti-jumawa. Jangan menjadi penghalang doa dengan menjual identitas demi popularitas. Supporter tentu saja mengharapkan yang terbaik bagi sesuatu atau seseorang yang di-support-nya. Atau paling tidak, memaklumi atau mentoleransi atas  hasil buruk yang menimpa. Bukan malah mendoakan sesuatu yang buruk dengan berkilah anti-jumawa.

Big four dan kompetisi UCL sudah di depan mata. Tak ada salahnya merajut asa menggapai juara liga. Brendan Rodgers selalu mewanti-wanti untuk berkonstentrasi dalam setiap laga, jangan sampai posisi puncak menjadikan tim-nya terlena. Rodgers juga menjadikan dirinya sebagai perisai dari segala tekanan, tugas pemain berusaha di lapangan, dan kita sebagai supporter berkewajiban mendoakan. Terlepas pada hasil akhir musim nanti, kiprah LFC dalam gelaran Liga Inggris ini patut diapresiasi.

Dengan 5 sisa pertandingan musim ini. Menyisakan 2 partai berat kontra Manchester City dan Chelsea. Bahkan Manchester City masih “menabung” 2 pertandingan lebih banyak dari LFC. Jalan menuju puncak singgasana BPL masih sangat terjal, namun bukan berarti hal itu mustahil terjadi. Menilik pada hasil mengejutkan Chelsea yang dibungkam Crystal Palace, membuat suatu keniscayaan bahwa bukan berarti tim dengan kucuran dana trilyunan rupiah mustahil untuk terjungkal. Sepakbola tentu saja bukan hitungan matematis dan deretan angka statistik. Untuk LFC, Big Four adalah tujuan dan titel juara BPL adalah bonus dari, mengutip perkataan Tukul Arwana, “Kristalisasi Keringat”, seluruh elemen klub. Entah itu Manajemen, Pelatih, Pemain, bahkan Suporter sekalipun. Sebagai suporter, fans, atau apapun itu sebutannya, tak ada salahnya untuk berharap dan mendoakan LFC menjadi jawara BPL dan tetap legowo jika hal itu urung terjadi di musim ini.

Entah itu Juara, lolos UCL, atau degradasi. As long as you support Liverpool FC, would you like to walk beside me?

#MakeUsDream

“Aim for the sky and you’ll reach the ceiling. Aim for the ceiling and you’ll stay on the floor”. – Bill Shankly

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.