Asa Juara Liga Masih Ada

Steven Gerrard
Steven Gerrard

Beberapa kicauan di linimasa jejaring sosial saya sungguh tak sedap dipandang dan sangat mengganggu nafsu makan ketika sudah bersiap melahap mie instan goreng double favorit saya. “It’s Over”, kata mereka. Mengacu kepada harapan Liverpool untuk menjuarai Liga Premier Inggris musim ini setelah dikalahkan Chelsea dengan dua gol tanpa balas dihadapan pendukungnya sendiri.

Anfield Road masih seramai biasanya. Fans Liverpool masih melantunkan nada puja puji terhadap para pemain dan Brendan Rodgers seperti 11 pertandingan lalu yang dilewati dengan hasil tiga poin sempurna. Itu merupakan sebuah pertanda, bahwa asa untuk menuai mimpi 24 tahun pengharapan meraih juara liga Inggris masih sangat terbuka.

Nila Setitik, Merusak Susu Sebelanga

Obrolan post-match selalu menyenangkan, namun tidak untuk kali ini. Selentingan kicauan bernada sengak melintas di lini masa saya. Inti dari kicauan tersebut adalah Gerrard telah mengubur impiannya sendiri untuk meraih gelar yang lama diimpikannya. Juara Liga Inggris.

Kicauan tersebut merujuk pada apesnya Gerrard yang jatuh terpeleset sehingga memudahkan bola dibawa Demba Ba untuk kemudian diceploskan ke gawang Mignolet. Kecewa? Pasti. Tapi untuk “menghukum” Gerrard dengan mengkambing hitamkannya atas sebuah kesalahan dibanding dengan perolehannya, integritasnya, dan kepemimpinannya di lapangan selama ini? Jelas tidak. Kejadian itu jelas, kalo kata orang Inggrisdisana, “shite happens”.

Steven Gerrard
Steven Gerrard

Gerrard jelas bukan satu-satunya pemain yang patut disalahkan, jika

kita memang bernafsu menyalahkan orang lain, namun ketidak mampuan menerobos pertahanan Chelsea juga patut menjadi perhatian. Lalu apa yang dilakukan Rodgers setelah laga itu? Seperti yang kita harapkan dan seperti biasanya, Rodgers tidak menyalahkan individu. Justru dia membela sang skipper. Dia adalah tameng hidup bagi anak asuhnya di depan media. Sangat berkelas.

Fokus Hingga Garis Finis !

Bagi anda penggemar Moto GP, apa yang terpikirkan di benak anda ketika saya menyebutkan “Jerez 2005” ? Ya. Duel antara dua pembalap kelas wahid, Valentino Rossi dan Sete Gibernau. Duel yang jelas sangat sengit dan berkelas yang selalu akan dikenang dengan Rossi yang akhirnya tampil sebagai pemenang. Di tahun 2005, Sirkuit Jerez, menjadi saksi putra bangsa Spanyol bernama Sete Gibernau bertarung mati-matian dengan juara dunia Moto GP asal Italia Valentino Rossi hingga titik darah penghabisan.

Rossi vs Gibernau. Jerez 2005
Rossi vs Gibernau. Jerez 2005

Gibernau memimpin 24 lap dari total 27 lap yang dilombakan. Mayoritas penonton waktu itu pasti sudah merasa yakin bahwa Gibernau akan menjadi juara di seri Jerez karena mendominasi di sepanjang lomba. Selanjutnya yang terjadi adalah race seru antara Gibernau dan Rossi yang saling take over. Gibernau yang berhasil di-take over oleh Rossi hingga last lap tak menyerah, memanfaatkan kesalahan Rossi, Gibernau mengambil alih posisi pertama. Hingga sampailah pada tikungan terakhir Jerez. Rossi dengan keberanian, kecerdikan, dan sedikit keberuntungan memanfaatkan peluang kecil sehingga, walaupun kontroversial, berhasil menyalip Gibernau dan menjuarai race seri Jerez.

Yang terjadi oleh Liverpool saat ini kurang lebih adalah sama. Tergelincir pada dua pertandingan terakhir dan harus rela turun ke peringkat kedua dengan City sebagai peringkat pertama yang hanya berbeda agresivitas gol. Saya berharap Liverpool bisa seperti Rossi. Determinasi hingga garis finis harus tetap dijaga. Keberanian, Kecerdikan, dan sedikit keberuntungan bukan mustahil dapat mengantar Liverpool menjadi juara di laga terakhir Liga Premier Inggris.

City Aja Bisa, Kenapa LFC Enggak ?

Kali ini, jika saat ini anda bertanya kepada fans Manchester City tentang sebuah pertandingan yang paling dikenang oleh fans Citizen, maka mungkin sebagian besar dari mereka akan menjawab pertandingan terakhir musim 2011/2012 melawan QPR. Persaingan ketat dengan klub sekota Manchester United dalam merebutkan tahta tertinggi Liga Primer Inggris harus ditentukan hingga menit terakhir.

Dua gol dalam 4 menit oleh Dzeko dan Aguero menuntaskan dahaga selama 44 tahun puasa gelar jawara Liga Inggris The Citizen, sekaligus membungkam dan membatalkan pesta juara oleh tetangga sebelah mereka, Manchester United. Tak pelak, Paul Merson sangat girang bukan kepalang menyaksikan keajaiban yang ada di depan matanya. Hampir sama epic-nya dengan reaksi Phil Thompson ketika menjadi saksi hidup keajaiban Final UCL di Istanbul tahun 2005.

Situasi hampir sama dapat terjadi di musim ini, dimana jawara Liga Inggris ditentukan hingga menit paling akhir di pertandingan terakhir. Tak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi dalam dua pertandingan sisa Liga Inggris musim 2013/2014. Liverpool bisa saja seperti Rossi yang menyalip Gibernau di tikungan terakhir sebelum garis finish. Liverpool bisa saja seperti Manchester City di musim 2011/2012, yang mengubah tawa fans rival menjadi duka di penghujung laga sebagai penawar dahaga 24 tahun lamanya. Tak ada yang tahu secara pasti apa yang akan terjadi di penghujung musim ini. Tak ada yang tau secara pasti apa yang telah Tuhan goreskan pada Lauhul Mahfudz mengenai akhir dari perjalanan ini.

Tugas manager dan pemain adalah berusaha. Sedangkan bagi kita, supporter, berkewajiban berdoa. Apapun yang terjadi musim ini, Liverpool pantas mendapatkan apresiasi. Target UCL telah terpenuhi, Juara Liga Inggris adalah bonus untuk menggapai mimpi.

Karena….harapan adalah do’a.

“I’m all for fans preparing for the worst, but you know, you are still allowed to hope for the best” – Paul Tomkins

5 Comments

  1. ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ‎​​​
    Whatever will be, will be lah. Yg penting maen sampe keringet darah di 2 game sisa, dimulai dari besok subuh. Soal hasil kumaha engke, our Liverpool has made us proud this season. We’ll bounce back next season if we failed, that’s for sure. Up the Reds!!

    • Betul sekali mas. Fokus menang di dua laga sisa, dan kita lihat posisi kita di klasemen pas akhir musim. Rodgers sering bilang gitu.
      Kayaknya ga ada seorang pandit-pun yg prediksi LFC bakal jadi penantang serius titel BPL musim ini. Sudah jelas penampilan LFC musim ini diatas ekspektasi dan sangat perlu mendapat apresiasi. Dengan atau tanpa titel BPL sekalipun musim ini.

  2. Buat saya pribadi tidak ada yg lebih menyenangkan daripada menikmati game per game Liverpool yg tak ubahnya seperti pertandingan final. Dengan prestasi musim ini pastilah banyak fans-fans instan yg sering ngeramein nonbar dan tiba-tiba jadi hard fans di socmed. Namanya jg manusia yg banyak ga syukurnya daripada nrimo. Dgn skuad seperti ini bs di posisi skg, apa pernah terpikir di awal musim ketika kita cuman dapet penendang sepak pojok ciamik sekelas Aspas? Kalo saya mah matur sembah nuwun marang Gusti yg engga abis-

  3. Tak ada yang tau apa yang akan terjadi sampai akhir pertandingan nanti, saya setuju dengan kata-kata ini “Tak ada yang tau secara pasti apa yang telah Tuhan goreskan pada Lauhul Mahfudz mengenai akhir dari perjalanan ini”

  4. Kita jg jgn lupa dgn angan2 kita awal season, 4 besar.. Dan udah diraih pula..3 besar dah aman..lah skrg dikasih harapan juara (aamiiin bgt kalo terpenuhi)..jd dah banyak tuk disyukuri..kita fans ga boleh hilang pengharapan, berharap dan berdoa urusan kita, urusan yg ngabulin bukan urusan kita..

    Kalo fans, mantan pemain dan pemain pengen club lain pengen kita juara, sudah sepantasnyalah kita fans nya sendiri berharap sama..bukan lantas malah komen yg nyakitin fellow reds..

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.