Vaksin MMR Bukanlah Penyebab Autisme

Vaksin MMR
Vaksin MMR

Vaksin MMR. Apakah itu ?

Vaksin MMR adalah campuran dari tiga jenis virus yang dilemahkan yang disuntik untuk imunisasi melawan demam campak, beguk dan rubela. Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Indonesia, imunisasi MMR umumnya diberikan kepada anak-anak yang berumur 12 – 18 bulan, dengan dosis penguat diberikan sebelum memasuki umur sekolah (sekitar umur 5 atau 6 tahun).

Di Amerika Serikat, vaksin MMR diizinkan pada tahun 1963 dan penguatnya dimulai pada pertengahan tahun 1990-an. Vaksin MMR digunakan secara luas di seluruh dunia sejak diperkenalkan pada awal 1970-an. Vaksin MMR dijual oleh Merck dengan merek M-M-R II, GlaxoSmithKline Biologicals dengan Priorix, Serum Institute of India dengan Tresivac, dan sanofi pasteur dengan Trimovax.

Vaksin MMR
Vaksin MMR

Apakah Vaksin MMR Menyebabkan Autisme ?

Menurut Hartono Gunardi (Ikatan Dokter Anak Indonesia), tidak ada bukti ilmiah antara imunisasi campak ataupun MMR dengan autisme. Berbagai penelitian dilakukan Amerika dan di Eropa menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara MMR dan autisme. Berbagai kajian American Academy of Pediatrics, Institute of Medicine, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyimpulkan bahwa tidak ada bukti hubungan antara imunisasi MMR dan timbulnya autisme. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) juga membentuk sebuah komisi yang terdiri dari peneliti independen untuk mengkaji hubungan imunisasi MMR dan autism. Hasilnya adalah tidak hubungan antara keduanya.

Bagaimana Tentang Publikasi Yang Menyatakan Bahwa Vaksin MMR Adalah Penyebab Autisme ?

Dokter Wakefield di Inggris pada 1998 melakukan penelitian pada 12 anak yang dirujuk ke klinik karena diare atau nyeri perut. Anak-anak tersebut mempunyai riwayat perkembangan normal, tetapi mengalami regresi (kemunduran) untuk keterampilan tertentu. Saat diperiksa, orangtua ditanyakan tentang riwayat vaksin MMR (yang telah diberikan 9 tahun sebelumnya) dan hubungan antara vaksin MMR dengan hilangnya keterampilan tersebut. Berdasarkan data tersebut, dengan jumlah subyek yang amat sedikit, peneliti menyatakan ada hubungan antara imunisasi MMR dan autism. Hubungan antara keduanya didasari pada ingatan orangtua yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, bukan berdasarkan bukti ilmiah yang obyektif. Lebih lanjut, 4 dari 12 subyek mengalami gangguan perilaku sebelum timbul gangguan saluran cerna. Hal ini membantah teori peneliti itu sendiri yang menyatakan bahwa gangguan saluran cerna (yang disebabkan oleh MMR) akan menimbulkan autisme. Kekurangan publikasi ini adalah kesalahan seleksi subyek (terdapat gangguan saluran cerna sebelum timbul gangguan perilaku) dan tidak ada kelompok control, suatu hal yang amat penting dalam penelitian. Dengan demikian publikasi tersebut tidak digolongkan sebagai publikasi ilmiah, melainkan suatu deskripsi ingatan orangtua dari suatu kelompok anak tertentu (bukan dari populasi anak pada umumnya) yang dirujuk ke klinik dokter tertentu.

Kesimpulan

Dari berbagai penelitian ilmiah yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan, vaksin MMR tidak terbukti menimbulkan autisme ataupun autistic spectrum disorder. Imunisasi MMR berguna untuk mencegah penyakit campak, campak jerman, gondong, dan komplikasi yang dapat mengakibatkan kecacatan atau bahkan kematian.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*