Berakhirnya Era Sang Legenda, Jamie Carragher.




Jamie Carragher atau James Lee Duncan Carragher, a man who eat shinbone. Seorang pribadi yang keras di lapangan, namun tetap profesional. Tak lupa tentunya dengan tekel Carragher yang menyebabkan seorang Nani menangis bak bocah yang kehilangan mainan dilapangan hijau, namun dengan empati dan sikap profesionalnya Carragher menyambangi ruang ganti pemain Manchester United untuk meminta maaf walaupun akhirnya tak diijinkan oleh para staff klub setan merah.

A one man club. Carragher mengabdikan seluruh karirnya untuk Liverpool FC, walaupun di masa kecilnya beliau adalah pendukung Everton. Rival satu kota Liverpool. Dedikasinya untuk Liverpool tak diragukan lagi dengan mengantongi jumlah caps 723 kali untuk Liverpool FC, menjadikan beliau adalah pemain kedua yang paling sering tampil membela LFC dibawah pemain legendaris lainnya, Ian Callaghan (856 kali).

Kesetiaan Jamie Carragher untuk Liverpool tak bisa dipungkiri lagi. Bahkan ada kejadian menarik yang tertulis di Autobiografi beliau ketika gagal mengeksekusi penalti di Piala Dunia 2006 melawan Portugal. Beliau kirim pesan ke King Kenny Dalglish yang berbunyi, “at least it wasn’t for Liverpool”. Bukan berarti beliau tidak peduli kepada Timnas, namun Timnas Inggris bukanlah prioritasnya. Beliau kemudian berujar, “I wasn’t uncaring or indifferent, I simply didn’t put England’s fortunes at the top of my priority list.” Salah satu kalimat yang dicintai oleh Rakyat Republik Merseyside.

Kini, Carragher memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai pemain sepakbola dan pemain LFC pada akhir musim 2012/2013. Beberapa kritik sempat dilayangkan oleh fans dan pundit sepakbola tentang Carra, bahwa dirinya sudah sulit untuk bersaing dengan bek-bek muda LFC lainnya seperti Skrtel, Agger, dan bahkan Coates. Namun, sekarang tidak saatnya untuk mendengarkan kritik-kritik untuk Carra. Sekarang adalah saat dimana kita, sebagai fans LFC, menikmati masa-masa akhir pengabdian seorang Carra. Seorang Legenda.

Carragher, adalah role-model ideal bagi para pemain muda Liverpool. Lain halnya dengan Gerrard yang mempunyai skill mumpuni diatas rata-rata, Carragher adalah pemain dengan skill memadai namun dibekali passion dan determinasi tak terhingga. Dan itu adalah bukti bahwa kecintaan, determinasi, dan semangat bisa membuat seorang pemain menjadi pemain hebat. Bahkan Shevchenko dan Kaka di masa keemasannya bersama AC Milan dibuat kelimpungan di Final Istanbul 2005 oleh beliau. Eidur Gudjohnsen ketika membela Chelsea yang berhadapan dengan Liverpool di Semifinal UCL 2005 juga mengakui bahwa Carra adalah bek hebat dengan pernyataannya, ” I¬†thought it was going in but it seemed Carragher cloned himself. He was everywhere.”

Carragher sang inspirator. Masih ingat dengan “spaghetti leg” Jerzy Dudek di Final UCL 2005 di Istanbul yang menggagalkan eksekusi penalti Andrea Pirlo dan Shevchenko? Ya, momen menarik adalah sebelum adu penalti digelar nampak Carragher mendekati Dudek dan nyerocos sambil melambai-lambaikan tangannya. Dudek memberi kesaksian di wawancaranya pada video One Night In May bahwa Carragher menyuruhnya untuk meniru apa yang dilakukan oleh Bruce Grobbelar pada Final UCL 1984 di Roma. Pada akhirnya Dudek mengikuti saran Carra, alhasil The Big Ear, Trofi UCL kembali ke Anfield setelah lama berkelana.

imgsource: thepfa.com

Once a Legend, still a legend. Carragher tak hanya disegani oleh rekan dan mantan rekan satu tim. Carragher juga dihormati oleh pemain-pemain lain. Bahkan pemain klub rival Manchester United, Rio Ferdinand, juga memberikan apresiasi untuk apa yang sudah dilakukan oleh Carragher di Liverpool dan Timnas Inggris. Rio Ferdinand menulis pada laman facebooknya, “Jamie Carragher has been a great servant to Liverpool. Great player and a top fella! Funny guy! Nutter when we were kids but management material now.”

Jika Lionel Messi di Barcelona, menurut beberapa fans dan pundit adalah seorang dewa diantara manusia, Alan Hansen menganggap Carragher adalah raksasa diantara para manusia setelah menyaksikan penampilan Carragher yang mengantar Liverpool mengalahkan Barcelona di Nou Camp dengan skor 1-2. Pada pertandingan itu, Carra dinobatkan menjadi Man of The Match. Ya, Barcelona yang kala itu dihuni oleh para pemain dengan skill dewa macam Messi, Ronaldinho, dan Eto’o.

Beberapa reaksi atas pengumuman Carragher bertebaran di twitter, seperti apa yang sudah dirangkum oleh Liverpool FC di web resminya.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=2ALBRGn5iQw]

Kini, Sang Legenda berusaha untuk menutup karirnya dengan manis. Yaitu membantu Liverpool menembus peringkat empat besar agar lolos ke Zona UCL di musim berikutnya. Thanks Carragher. Take a bow, Sir.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.