Pajak Perancis, Eksodus Pemain Ligue 1, dan Fenomena “Beckham Salary For Charity”.




Pajak
Pajak
Francois Hollande
Francois Hollande

Terpilihnya Francois Hollande menggeser saingan sekaligus incumbent Nicolas Sarkozy sebagai Presiden Perancis langsung menuai pro dan kontra. Program andalan Hollande pada saat kampanye, yaitu misi untuk menyeimbangkan ekonomi diimplementasikan dalam program pajak 75% bagi seseorang yang memiliki gaji diatas 1 juta Euro per tahunnya.

Tak pelak, hal ini membuat geram kalangan borjuis Perancis yang melakukan protes atas tingginya pungutan pajak tersebut. Demikian halnya dengan para pesepakbola Ligue 1, Liga Divisi Utama Perancis, yang sangat keberatan dengan kebijakan Presiden anyar tersebut. Bahkan, menurut Ketua Asosiasi Klub Profesional Perancis (UCPF) Phillipe Diallo yang disampaikan kepada Reuters, pajak baru ini membuat klub-klub bisa mengalami kerugian total hingga €150 juta. Hal senada terlontar dari pernyataan Frederic Thiriez, Presiden Liga Sepakbola Perancis (LFP), yang mengkhawatirkan kebijakan Hollande tersebut akan menyebabkan hengkangnya kurang lebih 150 pemain yang berlaga di Liga Perancis. Dan tentu saja, masih menurut Thiriez, hal itu akan berdampak buruk bagi perkembangan persepakbolaan Perancis.

Seakan mempunyai celah menyerang lawan politiknya, Francois Fillon, Perdana Menteri Perancis di rezim Sarkozy berpendapat bahwa masih lebih banyak lagi yang akan mengikuti langkah Bernard Arnault, borjuis Perancis yang melakukan pindah kewarganegaraan ke Belgia. “Silahkan anda pergi ke London, dan anda hanya akan mendapati pemuda-pemuda Perancis yang meninggalkan tanah airnya karena merasa tidak ada ruang untuk orang sukses disini.”, lanjut Fillon. Err..benarkah demikian, Wenger?

Seakan menjawab prediksi Thiriez, beberapa pemain Ligue 1 pun memutuskan hijrah. Nama-nama seperti Cheick Tiote, Yohan Cabaye, Moussa Sissoko, Eden Hazard, dan M’baye Niang memutuskan untuk keluar dari negeri Napoleon Bonaparte guna mencoba peruntungan di negara lain. Cheick Tiote, Yohan Cabaye, dan Moussa Sissoko memutuskan bergabung ke Newcastle United. Sementara Eden Hazard berlabuh ke Chelsea, dan Mbaye Niang bersandar ke AC Milan. Walaupun bukan semata-mata karena kebijakan pajak, namun faktor tersebut diyakini menjadi salah satu alasan untuk mereka angkat koper dari Perancis.

Khusus untuk Newcastle, kejelian membaca situasi dan ciamiknya transfer dan scouting policy The Magpies cukup berbuah manis. Bahkan Moussa Sissoko, pembelian paling anyar Newcastle, menjadi aktor utama kemenangan Newcastle melawan Chelsea di matchday pembuka bulan Februari 2013 melalui dua golnya ke gawang Petr Cech. Berkaca pada hal tersebut, beberapa fans klub-klub Premier League menyarankan untuk klub favoritnya mencoba melakukan scouting ke Perancis karena mereka meyakini bahwa masih banyak lagi pesepakbola di Liga Perancis yang berencana hengkang untuk menghindari tingginya pajak yang ditetapkan di negara tersebut.

Lain halnya dengan PSG, Paris Saint-Germain, klub yang bermarkas di Paris tersebut  seakan mempunyai jurus jitu agar tetap mampu menarik pemain-pemain tenar agar merapat ke Parc des Princes. Klub yang digelontori dana oleh Nasser Al-Khelaifi, milyuner asal Qatar, ini berhasil mendatangkan Zlatan Ibrahimovic dengan kisaran gaji 14 Juta Euro per tahun dengan klausul pajak gaji Ibrahimovic akan sepenuhnya ditanggung oleh PSG. Namun tentu saja tak semua klub Ligue 1 tak seberuntung PSG yang digelontori dana tak terbatas dari Qatar dan tidak bisa mengimplementasikan kebijakan seperti apa yang sudah dilakukan PSG untuk Ibrahimovic. Bahkan, menurut beberapa fans Ligue 1, kebijakan pajak hanya akan meruntuhkan klub, bukan pemain.

imgsource: sport.sky.it

Dan kini, dalam penutupan transfer window januari 2013, para pecinta sepakbola dikagetkan dengan kepindahan David Beckham dari LA Galaxy ke PSG. Ya, dari Major League Soccer ke Ligue 1, dan lebih hebatnya, ke UEFA Champions League. Tak hanya berhenti disitu saja, David Beckham menyatakan bahwa dia tidak akan menerima gajinya, yang rumornya mencapai 800 ribu Euro per pekan, dan kemudian dialihkan untuk kegiatan sosial dalam membantu anak-anak.

Apakah kemudian Beckham akan bermain cuma-cuma alias gratis di PSG? Tentu saja tidak. Menurut majalah Forbes pada April 2012, David Beckham adalah pesepakbola yang berpenghasilan tertinggi di muka bumi ini dengan $46 juta, disusul oleh Christiano Ronaldo ($42 juta), dan Lionel Messi ($39 juta). Selain itu, David Beckham meraih posisi kedelapan pada jajaran atlet berpenghasilan tertinggi dengan kontrak-kontrak sponsorship diantara lain seperti Adidas dan Samsung yang mencapai $37 juta.

Selain itu, dalam klausul kontrak sebuah pemain tentu saja tak hanya gaji mingguan yang tertera didalamnya. Masih ada poin-poin seperti appearance fee, assist, win bonus, dan tentu saja royalti merchandise PSG yang terjual dengan brand David Beckham. Keputusan Beckham untuk merelakan seluruh gajinya diperuntukkan kegiatan sosial adalah sebuah langkah pencitraan yang jitu untuk membungkam para pencibirnya yang menilai Beckham adalah seorang selebritis, bukan atlet maupun pesepakbola. Dan tentu saja kepindahan Beckham ke PSG juga berpengaruh kepada bisnis sang istri, Victoria Beckham, untuk memperlebar sayap bisnis ke salah satu kota barometer mode ternama di dunia, Paris, setelah sebelumnya menjajaki Madrid, Los Angeles, dan Milan. Lalu bagaimana dengan Beckham? Tenang saja, beliau akan tetap bergelimang Euro dari kontrak sponsorship Adidas, Samsung, H&M.




4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.