6G Itu Apa Sih? Padahal 5G Aja Belum Rata
6G Itu Apa Sih? Padahal 5G Aja Belum Rata. Kalau kamu merasa 5G aja masih “angin-anginan” di banyak tempat, wajar banget kalau dengar kata 6G bikin mikir, “Lah, ini buru-buru amat?” Tapi begitulah dunia teknologi: standar baru itu disiapkan jauh sebelum benar-benar dipakai massal. Jadi, meski 5G masih terus digelar, obrolan soal 6G sudah mulai serius—karena butuh waktu lama sampai siap dipakai publik.
Jadi… 6G itu apa?
Simpelnya: 6G adalah generasi berikutnya setelah 5G untuk jaringan seluler. Tujuannya jelas: bikin koneksi makin cepat, makin responsif (latensi makin kecil), dan mampu menampung lebih banyak perangkat yang online bareng-bareng. Lifewire bahkan menyebut pada akhirnya kita mungkin nggak akan peduli lagi istilah “G”, karena semuanya bakal terasa instan—tanpa loading yang bikin emosi.
6G kapan hadir?
Kalau ngikut pola “tiap 10 tahunan muncul generasi baru”, 6G diperkirakan mulai rollout sekitar 2030. Tapi sebelum itu, biasanya bakal ada uji coba dan demo dari operator serta “teasing” dari produsen HP soal perangkat 6G.
Kenapa lama? Ya karena urusannya bukan cuma teknologi di lab:
- debat & pembagian band frekuensi
- urusan lisensi spektrum
- bangun infrastruktur/tower
- regulasi dan koordinasi lintas pihak
Semua ini yang bikin peluncuran 5G aja bisa pelan—dan 6G bakal ngalamin drama serupa.
Menariknya, Lifewire juga menyinggung data bahwa adopsi 5G di Amerika Utara pada 2022 masih 39%, dan diperkirakan naik sampai 91% pada 2030. Artinya, saat 6G mulai muncul pun, 5G (bahkan 4G) masih akan tetap dipakai di banyak tempat.

Kenapa orang heboh banget sama 6G?
Karena 6G bukan cuma “internet lebih kenceng buat scroll TikTok”. Dampaknya bisa merembet ke banyak hal yang lebih “besar”:
- AR/VR makin imersif (bukan sekadar gimmick)
- smart city dan otomasi industri makin matang
- robotika dan kendaraan otonom makin aman karena komunikasi lebih real-time
- video call hologram yang lebih hidup (ya, ini yang sering dibayangin orang 😄)
Bahkan Lifewire mengangkat ide ekstrem soal masa depan kesehatan: dengan jaringan super responsif, perangkat pintar dan teknologi bantu (misalnya exoskeleton terhubung) bisa merespons cepat sesuai kebutuhan pengguna.
6G vs 5G: bedanya apa yang paling kerasa?
Kalau disederhanakan, ada 3 kata kunci: speed, latency, capacity.
- Lebih cepat + latensi lebih kecil
Lifewire menekankan perbedaan paling jelas antara 6G dan 5G bakal ada di kecepatan dan latensi. 5G saja bisa tembus sampai ~1 Gbps dalam kondisi ideal; 6G ditargetkan jauh di atas itu—bahkan dibayangkan bisa sampai ratusan Gbps, atau lebih tinggi lagi (masih belum final karena standar belum matang). - Kapasitas jaringan jauh lebih gede
Target awal 6G disebut bisa punya 50–100x kapasitas 5G. Dan kalau 5G dirancang mendukung 1 juta perangkat per km², 6G diproyeksikan bisa sampai 10 juta perangkat per km². Cocok banget buat era IoT yang “segala benda online”. - Main di frekuensi super tinggi
Agar bisa bawa data lebih banyak, 6G diperkirakan akan mendorong pemakaian frekuensi lebih tinggi—bahkan mendekati 300 GHz sampai rentang terahertz. Tapi ada konsekuensi: semakin tinggi frekuensi, jangkauannya makin pendek. Lifewire menyebut contoh bahwa jangkauan radiasi terahertz bisa sekitar 10 meter, yang jelas menantang untuk cakupan luas.
Makanya, PR besar 6G adalah: gimana caranya bikin sinyal super cepat itu tetap bisa menjangkau area luas tanpa harus bikin “tower bejibun”.
Kita beneran butuh 6G nggak?
Jawaban versi Lifewire: iya—karena selalu ada ruang untuk peningkatan (hiburan, kesehatan, akses internet, dsb). Tapi ada kemungkinan lain: kalau 5G terus disempurnakan dan berevolusi (tanpa ganti nama), bisa saja kebutuhan “6G” jadi tidak terasa mendesak.
Kesimpulan singkat
6G itu bukan “pengganti 5G besok pagi”, tapi rencana besar menuju era 2030-an: koneksi makin cepat, latensi makin rendah, dan jaringan sanggup menampung super banyak perangkat. Yang jelas, perjalanan ke sana masih panjang—tapi arah industrinya sudah kelihatan.







