Huawei OceanStor Dorado All-Flash “Lulus Uji Teknis”
Pernah merasa “server sudah kencang”, tapi aplikasi tetap lambat saat jam sibuk? Atau lebih parah: bisnis berhenti karena storage jadi bottleneck, lalu tim IT terjebak dua pilihan buruk—upgrade mahal atau kompromi performa? Di era AI dan data yang makin liar, masalah storage bukan lagi urusan “kapasitas saja”, tapi gabungan kecepatan, ketahanan, keamanan, dan biaya operasional.
Itulah konteks kenapa validasi teknis independen terhadap solusi storage enterprise jadi menarik. Dalam sebuah technical validation, platform Huawei New-Gen OceanStor Dorado Converged All-Flash Storage dievaluasi dari sisi performa, resiliensi, otomasi berbasis AI, hingga total cost of ownership (TCO). Hasil uji menonjolkan kombinasi: IOPS besar, latensi mikrodetik, proteksi ransomware, layanan active-active, dan potensi penghematan TCO hingga 64% dibanding storage hybrid tradisional.
Di artikel ini, kita bahas poin-poinnya dengan bahasa yang “kepake”: apa yang diuji, apa maknanya untuk perusahaan, dan kapan solusi seperti ini relevan untuk kamu.
1) Kenapa storage enterprise “naik kelas” di era AI?
AI membuat kebutuhan storage naik dua tingkat sekaligus:
- Data makin besar dan makin cepat bertambah (bukan hanya terstruktur, tapi juga data tak terstruktur seperti dokumen, gambar, log, dan arsip).
- Aplikasi makin sensitif latency—database mission-critical, analitik, training, pipeline data, sampai layanan digital yang harus responsif.
Dalam laporan uji tersebut, tantangan terbesar di lingkungan enterprise berkisar pada throughput/bandwidth dan performa storage (latency & I/O), disusul isu keamanan/proteksi data.
2) Apa itu “Converged All-Flash” dan kenapa menarik?
“Converged” di sini intinya: satu platform all-flash yang bisa melayani beragam protokol sekaligus—misalnya SAN untuk database, NAS untuk file sharing, dan S3 untuk object storage—tanpa harus membeli tiga sistem berbeda.
OceanStor Dorado generasi baru mengusung arsitektur end-to-end NVMe dan bisa diskalakan besar (disebut mendukung hingga 128 controller). Tujuannya jelas: menekan latency dan meningkatkan resiliensi saat beban kerja makin campur aduk.
3) Highlight performa: angka yang relevan untuk workload nyata
Bagian paling “wow” dari uji teknis biasanya memang performa—tetapi yang lebih penting: pengujiannya memakai skenario yang mirip kebutuhan enterprise, bukan sekadar angka marketing.
a) Database skala besar (Oracle RAC)
Dalam pengujian Oracle RAC, sistem dicatat melayani 2.584.675 IOPS dengan latency sekitar 70 mikrodetik (µs).
Kalau kamu bukan anak storage, gampangnya begini:
- IOPS tinggi = sistem kuat menangani transaksi banyak (OLTP, billing, core apps)
- Latensi mikrodetik = respons cepat dan stabil saat beban naik
b) Object storage (S3) untuk “document imaging”
Uji S3 menunjukkan performa upload sekitar 223.705 TPS dengan throughput 28,528 GB/s, dan download 618.818 TPS dengan throughput 75,541 GB/s.
c) NAS untuk beban EDA (file ops besar)
Untuk skenario NAS/Electronic Design Automation (EDA), performa dibukukan 2.012.784 read OPS dengan throughput 30,7 GB/s.
Kenapa ini penting? Karena banyak perusahaan sekarang punya beban campuran: database, file, dan object—sering berjalan berbarengan. Kalau storage cuma kencang di satu sisi, sisi lain biasanya “ngos-ngosan”.

4) Resiliensi: bukan cuma “HA”, tapi tahan skenario buruk
Poin yang sering dilupakan: performa tinggi percuma kalau sistem rapuh. Dalam validasi teknis tersebut, resiliensi diuji dari beberapa aspek:
a) Active-active multiprotocol (HyperMetro) + failover
Ada validasi layanan active-active lintas sistem (A dan B) serta skenario failover—yang krusial untuk target RTO/RPO ketat.
b) Anti-ransomware untuk NAS dan SAN
Ada pembahasan proteksi ransomware untuk environment file dan block, termasuk konsep air gap (port dinonaktifkan secara fisik berdasarkan kebijakan replikasi).
c) Cross-enclosure RAID & desain toleransi kegagalan
Disebutkan arsitektur SmartMatrix full-mesh mendukung banyak controller dan toleransi kegagalan engine, serta RAID-TP (triple parity) yang memungkinkan hingga tiga kegagalan disk simultan lintas enclosure.
Intinya: ini bukan sekadar “punya RAID” atau “punya replication”, tetapi diarahkan untuk kondisi nyata: disk failure, outage tak terduga, sampai ancaman ransomware.
5) Otomasi & AI untuk operasional: “ngurus storage” jangan makan SDM
Di enterprise, biaya besar sering bukan di pembelian awal—tapi di operasi harian: monitoring, tuning, incident response, dan troubleshooting.
Platform manajemen yang disebut dalam validasi teknis menyorot kemampuan agent (DataMaster pada iMaster DME) untuk:
- asesmen kesehatan otomatis,
- prediksi tren performa,
- dan pelokalan fault dalam hitungan menit.
Ada juga contoh asisten berbasis AI (Aico) yang dapat menjawab langkah provisioning LUN dengan cepat dan diverifikasi akurat terhadap dokumentasi.
Kalau diterjemahkan ke bahasa manajemen: lebih sedikit pekerjaan manual, lebih cepat menemukan akar masalah, dan potensi menurunkan downtime akibat human error.
6) Bagian yang bikin CFO melirik: TCO bisa turun sampai 64%
Nah, ini yang biasanya jadi deal maker. Dalam analisis TCO 5 tahun, skenario pembandingnya adalah storage hybrid tradisional (kombinasi SSD SAS + HDD NL-SAS) versus all-flash NVMe. Hasil pemodelan menunjukkan TCO solusi all-flash tertentu bisa menjadi sekitar 36% dari total biaya hybrid, alias penghematan TCO overall 64% dalam 5 tahun.
Rincian penghematan yang disorot meliputi:
- power/cooling lebih rendah (hingga 72%)
- maintenance/support lebih rendah (hingga 64%)
- biaya perangkat lebih rendah (hingga 63%)
Catatan sehatnya: TCO selalu bergantung pada asumsi beban kerja dan harga energi di lokasi kamu. Tetapi poin besarnya jelas—all-flash modern tidak selalu lebih mahal; sering kali justru lebih “waras” ketika dihitung totalnya (perangkat + listrik + ruang + perawatan).
7) Siapa yang paling diuntungkan?
Solusi seperti ini biasanya paling terasa manfaatnya untuk:
- Perbankan/finansial: transaksi tinggi, downtime tidak boleh, audit ketat
- Pemerintahan: data besar, kebutuhan arsip + keamanan, layanan publik harus stabil
- Kesehatan: sistem klinis & rekam medis butuh respons cepat dan proteksi data ketat
- Manufaktur/EDA/R&D: file ops masif, throughput tinggi, kolaborasi tim besar
Kalau organisasi kamu sudah merasakan salah satu gejala ini, kamu kandidat kuat:
- latency naik saat jam sibuk
- backup window makin mepet
- ransomware readiness masih “berdoa”
- biaya listrik data center makin nyesek
- tim IT terlalu banyak kerja manual untuk storage
Penutup
Di era AI, storage bukan lagi “lemari data”. Ia adalah mesin utama yang menentukan apakah aplikasi cepat atau lambat, apakah bisnis bisa bertahan saat insiden, dan apakah biaya infrastruktur bisa diprediksi. Kombinasi performa (IOPS tinggi + latensi mikrodetik), resiliensi (active-active + proteksi ransomware), dan efisiensi TCO (hingga 64% lebih rendah dalam pemodelan) menjadikan platform all-flash generasi baru seperti ini layak masuk shortlist evaluasi enterprise.




