AI

Booming AI Bikin HP Murah Makin Langka

Booming AI Bikin HP Murah Makin Langka. Selama ini kecerdasan buatan atau AI identik dengan ChatGPT, Gemini, generator gambar, hingga fitur pintar di smartphone. Namun siapa sangka, booming AI ternyata bisa memberikan efek yang jauh lebih dekat dengan kantong konsumen: HP murah berpotensi semakin sulit ditemukan.

Bukan sekadar kemungkinan kecil. Laporan terbaru Counterpoint Research memperkirakan pengiriman smartphone global dengan harga di bawah US$200 dapat menyusut sekitar 40 persen antara 2025 dan 2030. Jika proyeksi tersebut terjadi, lebih dari 230 juta unit smartphone murah per tahun bisa menghilang dari pasar dibandingkan level 2025.

Bagi Indonesia yang selama bertahun-tahun memiliki pasar smartphone entry-level sangat besar, perubahan ini patut diperhatikan.

Apa Hubungan AI dengan Harga HP?

Sekilas, pusat data AI dan HP murah di konter smartphone terlihat tidak memiliki hubungan. Namun keduanya membutuhkan salah satu komponen yang sama: memori.

Ledakan layanan AI membuat perusahaan teknologi membangun data center dalam skala besar. Infrastruktur tersebut membutuhkan memori berperforma tinggi dalam jumlah sangat besar.

Produsen semikonduktor kemudian semakin memprioritaskan komponen bernilai tinggi untuk server dan infrastruktur AI. Akibatnya, pasokan memori untuk elektronik konsumen seperti smartphone mendapat tekanan.

Counterpoint mencatat harga memori smartphone melonjak lebih dari 80 persen secara kuartalan pada Q2 2026. Pada perangkat kelas bawah, kenaikan biaya komponen untuk konfigurasi sebanding bahkan mencapai sekitar 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan memori sebagai pendorong utamanya.

Masalahnya, produsen HP murah memiliki margin keuntungan yang jauh lebih tipis dibandingkan produsen perangkat premium.

Ketika RAM, storage, chipset, dan komponen lain naik harga, pilihan mereka semakin terbatas: menaikkan harga, mengurangi spesifikasi, atau menghentikan model tertentu.

Dampaknya Sudah Terlihat di Indonesia

Fenomena ini bukan sekadar prediksi global.

Counterpoint melaporkan pengiriman smartphone di Indonesia turun sekitar 9 persen year-on-year pada Q1 2026. Konsumen disebut semakin menunda upgrade karena harga perangkat meningkat akibat krisis pasokan memori. Segmen smartphone entry-level di bawah US$150 juga mengalami penurunan tajam.

Di pasar ritel Indonesia, pilihan smartphone baru di bawah Rp2 juta juga dilaporkan semakin terbatas, sementara konsumen mulai bergeser menuju perangkat kelas menengah.

AI
AI

Artinya, rentang harga yang dahulu menjadi arena persaingan Xiaomi, OPPO, vivo, Samsung, realme, Infinix, Tecno, dan berbagai merek lain bisa berubah cukup signifikan.

Era HP Murah Akan Berakhir?

Belum tentu.

Istilah “HP murah punah” tentu terlalu ekstrem. Smartphone terjangkau masih akan tersedia. Yang kemungkinan berubah adalah definisi HP murah itu sendiri.

Jika beberapa tahun lalu konsumen bisa memperoleh RAM besar, storage lega, kamera cukup baik, dan baterai besar dengan harga sangat agresif, produsen kini harus melakukan kompromi lebih banyak.

Smartphone entry-level masa depan mungkin hadir dengan:

  • harga awal yang lebih tinggi,
  • peningkatan spesifikasi lebih kecil,
  • pilihan model lebih sedikit,
  • penggunaan chipset generasi lama,
  • atau konfigurasi RAM dan storage yang lebih konservatif.

Counterpoint memperkirakan pasar smartphone kelas menengah justru akan menjadi medan persaingan penting menuju 2030. Produsen diperkirakan semakin mengandalkan kamera, desain, daya tahan baterai, dukungan software, 5G, dan fitur AI untuk membedakan produknya.

HP Bekas dan Refurbished Bisa Makin Menarik

Ada efek lain yang cukup menarik.

Jika harga smartphone baru terus meningkat, konsumen kemungkinan akan mempertahankan HP lebih lama. Pasar smartphone bekas, refurbished, program trade-in, dan cicilan perangkat juga berpotensi semakin penting.

Daripada membeli smartphone baru kelas bawah dengan spesifikasi terbatas, sebagian konsumen mungkin memilih flagship keluaran dua atau tiga tahun sebelumnya.

Strategi membeli smartphone pun bisa berubah dari sekadar mencari “RAM terbesar dengan harga termurah” menjadi mencari perangkat yang mempunyai dukungan update panjang, baterai awet, kualitas konstruksi baik, dan performa yang masih layak digunakan beberapa tahun.

Haruskah Beli HP Sekarang?

Tidak perlu panic buying.

Proyeksi penurunan 230 juta unit merupakan perkiraan hingga 2030, bukan berarti ratusan juta HP murah akan tiba-tiba menghilang pada akhir 2026.

Namun tren kenaikan biaya komponen menunjukkan bahwa konsumen sebaiknya semakin realistis dalam menentukan budget.

Jika menemukan smartphone dengan harga menarik, spesifikasi memadai, dukungan software panjang, dan memang sedang membutuhkan perangkat baru, menunggu penurunan harga besar belum tentu selalu menjadi strategi terbaik.

Sebaliknya, jika smartphone lama masih berfungsi baik, memperpanjang usia pemakaian juga semakin masuk akal.

AI Membuat Teknologi Lebih Canggih, Tetapi Juga Lebih Mahal

Booming AI menghadirkan sedikit ironi.

AI menjanjikan smartphone semakin pintar, kamera semakin canggih, asisten digital semakin berguna, dan pekerjaan semakin mudah. Namun pada saat yang sama, pembangunan infrastruktur AI dalam skala besar ikut meningkatkan permintaan terhadap komponen yang juga dibutuhkan perangkat konsumen.

Akibatnya, persaingan memperebutkan chip tidak hanya terjadi antara Samsung, Xiaomi, Apple, OPPO, atau vivo.

Secara tidak langsung, smartphone di saku kita kini juga bersaing mendapatkan komponen dengan data center AI raksasa di berbagai belahan dunia.

Dan bila tren tersebut berlanjut, pertanyaan konsumen Indonesia dalam beberapa tahun ke depan mungkin bukan lagi:

“HP murah terbaik apa?”

Melainkan:

“Masih adakah HP murah dengan spesifikasi yang benar-benar worth it?”

Bagaimana menurut Anda? Apakah lebih memilih membeli HP baru kelas menengah, mempertahankan HP lebih lama, atau beralih ke flagship bekas jika harga smartphone baru terus meningkat?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.