Aplikasi “Buatan Eks Intel Israel” Banyak Dipakai di Indonesia
Pernah nggak kamu buka HP, lalu sadar: “Lho, hampir semua aktivitas hidupku ada di sini—lokasi, kebiasaan jalan, rutinitas, bahkan pola tidur?” Nah, di era aplikasi serba bisa, yang paling mahal bukan gadget-nya, tapi datanya.
Belakangan, ramai dibahas soal sejumlah aplikasi global yang dibangun oleh perusahaan yang didirikan para alumni unit siber dan intelijen Israel—dan beberapa di antaranya juga sangat familiar di Indonesia. Penting untuk dipahami: “didirikan oleh eks personel intel” tidak otomatis berarti aplikasinya spyware, tetapi fakta ini sering memicu diskusi publik tentang privasi, pengumpulan data, dan transparansi bisnis digital.
Di artikel ini, kita bahas dengan cara yang waras dan praktis: apa yang sebenarnya dimaksud, aplikasi apa yang sering disebut, risiko yang realistis, dan langkah aman yang bisa kamu lakukan tanpa panik.
1) “Buatan eks intel” itu maksudnya apa, sih?
Istilah “aplikasi buatan mata-mata” sering dipakai sebagai judul yang bikin klik, tapi konteks yang lebih presisi adalah: sebagian aplikasi populer didirikan atau dikembangkan oleh perusahaan yang pendirinya pernah bekerja di unit militer siber Israel (misalnya Unit 8200 atau unit teknologi militer lain).
Dunia startup Israel memang terkenal melahirkan banyak perusahaan teknologi—termasuk keamanan siber, data, iklan, dan aplikasi konsumen. Jadi, kaitan ke latar belakang pendiri itu bisa berupa riwayat karier, bukan berarti aplikasinya dibuat untuk memata-matai pengguna.
Namun, diskusinya tetap penting karena:
- aplikasi modern sering mengumpulkan lokasi, kontak, riwayat penggunaan, dan identifier perangkat;
- model bisnis aplikasi bisa bergeser ke iklan, tracking, atau analitik;
- pengguna sering asal “Allow” izin aplikasi tanpa membaca.

2) Aplikasi yang sering disebut paling familiar di Indonesia
Dari berbagai laporan media, dua nama yang paling sering disebut “banyak dipakai” di Indonesia adalah:
Waze
Aplikasi navigasi berbasis komunitas (crowdsourcing) yang membantu pengguna menghindari macet dan mencari rute tercepat secara real-time.
Moovit
Aplikasi peta transportasi umum yang membantu rute, jadwal, dan opsi perjalanan multi-moda di berbagai kota.
Keduanya termasuk kategori aplikasi yang wajar membutuhkan data lokasi agar fungsinya berjalan optimal. Tapi di sinilah pengguna perlu paham: data lokasi adalah salah satu data paling sensitif karena bisa membentuk “peta kebiasaan hidup” kamu.
Selain itu, ada daftar aplikasi yang kerap beredar:
Supersonic (CEO memimpin operasional untuk Angkatan Darat Israel)
ZipoApps (didirikan mantan agen intelijen Unit 8200)
Bazaart (diciptakan mantan pejabat intelijen IDF)
Lightricks (salah satu pendirinya masih bekerja di Unit 8200)
Playtika (didirikan anak mantan kepala staf IDF)
Crazy Labs (semua pendiri masih bekerja di IDF)
CallApp (pendiri pernah bekerja 3 tahun di Unit 8200)
Gett (diciptakan mantan pejabat Unit 8200)
Fooducate (didirikan mantan pilot Angkatan Udara Israel)
Sekali lagi: poin utamanya bukan melabeli semua aplikasi itu “jahat”, melainkan meningkatkan literasi privasi saat memasang aplikasi populer.
3) Risiko privasi yang paling realistis (bukan teori konspirasi)
Kalau kamu pengguna biasa, risiko yang paling masuk akal biasanya bukan “disadap agen rahasia”, melainkan hal-hal ini:
- Pengumpulan data berlebihan Aplikasi meminta izin yang tidak relevan (misalnya akses kontak/telepon untuk aplikasi yang tidak butuh).
- Pelacakan iklan (ad tracking) dan profiling Data dipakai untuk membangun profil minat, kebiasaan, dan segmentasi iklan.
- Data sharing ke pihak ketiga Beberapa aplikasi berbagi data ke vendor analitik, iklan, atau mitra bisnis—biasanya tertulis di kebijakan privasi, tapi jarang dibaca.
- Kebocoran data (data breach) Bahkan aplikasi “normal” pun bisa jadi korban kebocoran jika keamanan sistemnya lemah.
4) Cara aman: tetap bisa pakai aplikasinya, tapi data kamu lebih terkendali
Ini bagian paling penting. Kalau kamu ingin tetap pakai aplikasi populer (termasuk navigasi/transportasi), lakukan langkah praktis berikut:
A. Cek “izin aplikasi” dan rapikan
- Lokasi: set ke “While using the app / Saat digunakan”, bukan “Always”.
- Matikan akses yang tidak relevan: kontak, mikrofon, kamera (kecuali memang dibutuhkan).
- Aktifkan opsi Precise Location hanya bila perlu; kalau tidak, gunakan lokasi perkiraan.
B. Audit “Privacy” di akun Google/Apple
- Di Android, cek Google Privacy dan Location History (matikan jika tidak dibutuhkan).
- Di iPhone, cek Location Services dan Tracking (limit tracking per aplikasi).
C. Cek pengembang & reputasi aplikasinya
Jangan cuma lihat rating. Lihat juga:
- nama pengembang,
- website resmi,
- pola pembaruan,
- dan ulasan terbaru (bukan ulasan 2 tahun lalu).
D. Gunakan prinsip “minimalis aplikasi”
Semakin banyak aplikasi kamu pasang, semakin luas permukaan risiko.
- Hapus aplikasi yang tidak pernah dipakai 30 hari terakhir.
- Pilih aplikasi yang fungsinya jelas dan tidak minta izin aneh-aneh.
E. Kalau kamu sensitif soal privasi: pakai alternatif
Untuk navigasi, beberapa orang memilih Google Maps/Apple Maps (tergantung kebutuhan). Untuk transportasi umum, tergantung kota, kadang aplikasi lokal bisa lebih minim fitur tetapi cukup. (Catatan: setiap alternatif juga punya kebijakan data masing-masing, jadi tetap cek izin dan privasinya.)
5) Jangan tercampur: “aplikasi populer” ≠ “spyware seperti Pegasus”
Banyak orang menyamakan isu “aplikasi didirikan eks intel” dengan spyware kelas berat seperti Pegasus. Itu dua hal yang berbeda.
Spyware semacam Pegasus adalah alat spionase yang biasanya menargetkan individu tertentu dan sering memanfaatkan celah keamanan tingkat tinggi.
Sementara aplikasi populer yang dibahas di sini adalah aplikasi konsumen yang dipakai jutaan orang—isu utamanya lebih ke privasi data, tracking, dan transparansi.
Kesimpulan
Wajar kalau berita seperti ini bikin orang was-was. Tapi langkah terbaik bukan panik atau langsung menghapus semua aplikasi, melainkan:
- pahami konteks,
- kenali data apa yang dikumpulkan,
- rapikan izin,
- dan biasakan “higienitas digital”.
Di era sekarang, kontrol privasi itu skill wajib—bukan karena kamu “penting”, tapi karena data kamu bernilai.




