Kesalahan Investasi Bagi Pemula




Investasi
Investasi

Kesalahan Investasi Bagi Pemula

Kesalahan Investasi Bagi Pemula. Tahun 2021 ini seakan-akan menjadi tahun “melek investasi”. Bagaimana tidak, tahun kedua virus covid-19 melanda dunia ini memang menjadikan kaum gabut seakan-akan mencoba untuk menggali pengetahuan lagi untuk mendapatkan penghasilan ekstra. Tak hanya melulu scrolling media sosial yang berisi para selebgram dan influencer tweeter, kini pergerakan media sosial sudah merambah lebih luas ke dunia digital marketing, investasi reksadana, saham, dan juga cryptocurrency.

Bagi investor pemula, tentu saja akan sangat tergiur dengan segala bentuk investasi. Khususnya investasi yang seolah-olah “menjanjikan” high return dengan cepat seperti perdagangan saham dan cryptocurrency. Namun demikian, investor pemula seharusnya mempelajari lebih lanjut lagi tentang produk investasi yang dibelinya. Karena masih berlaku sebuah ungkapan bahwa high risk high return alias kalau bisa untuk banyak, boncos banyak juga mungkin terjadi.

Berikut ini biasanya kesalahan yang sering dilakukan oleh investor pemula :

Telat Invest

Yak. Sudah terlalu lama kita dicekoki dengan lagu “bang..bing..bung yok kita menabung” pada masa kanak-kanak kita. Faktanya, menabung tidak akan menjadikan aset atau uang anda bertambah. Karena seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa nilai mata uang tiap tahun mengalami inflasi. Belum lagi potongan administrasi bank yang setiap bulan dibebankan kepada nasabah. Jadi, semakin awal kita mengenal investasi dan mulai berinvestasi, maka hal tersebut akan menjadikan awal yang bagus bagi kita.

Malas Riset

Banyak investor pemula memulai investasi karena tergiur dengan profit tinggi yang cepat diraih. Easy money, they said. Apalagi jika sudah mulai follow para influencer yang bergerak di bidang saham gorengan, beeuh, hati-hati aja. Perlu kita sadari, sebagai investor pemula, bahwa yang kita pakai untuk investasi adalah uang kita sendiri. Bukan uang para influencer tersebut. Jadi, jika kita mengalami kerugian maka sesungguhnya kita pula lah yang rugi.

Maka dari itu, sebaiknya perbanyak lagi riset tentang produk investasi yang akan kita beli. Apakah produk tersebut memang sustainable atau one hit wonder ? Do your own research.

Tidak Invest Secara Berkala

Saya mempercayai bahwa dalam berbuat sesuatu (yang baik), hal yang paling sulit dilakukan adalah istiqomah alias berkesinambungan. Pun demikian dengan investasi. Biasanya kita sebagai investor pemula merasa akan sulit berinvestasi secara rutin. Apalagi jika instrumen investasinya belum membuahkan profit sesuai ekspekstasi, jadi malas-malasan top-up deh.

Padahal, dalam berinvestasi seharusnya dilakukan dengan rutin. Kita bisa melakukan hal tersebut dengan mengubah mindset “menabung rutin” menjadi “investasi rutin”. Apalagi jika kita adalah investor jangka panjang dan bukan daily trader maka tidak usah peduli bahwa market sedang bullish ataupun bearish. Cuek saja. Tambah terus investasinya untuk dinikmati suatu saat nanti.

Over Diversifikasi

Jadi gini, jika kita punya modal investasi bermilyar-milyar, maka tak ada salahnya menerapkan istilah don’t put all your eggs in a basket. Namun, sebagai investor pemula, yang saya asumsikan kita punya modal investasi ratusan ribu atau bahkan kurang dari sepuluh juta rupiah, terlalu banyak diversifikasi akan menghasilkan satu hal : pusing. hehe.

Bagaimana tidak, modal investasi yang gak seberapa itu dipecah-pecah menjadi beberapa instrumen investasi yang nantinya kita akan dipusingkan dengan informasi dan laporan berkala produk investasi yang kita beli. Jadi saran saya sebagai investor pemula, sebaiknya cukup miliki satu atau dua reksadana pasar uang atau obligasi dan rutinlah membeli produk tersebut. Dengan demikian, kita bisa memantau dengan nyaman informasi yang berkaitan dengan produk investasi yang kita beli tersebut.

Terjun Ke Investasi High Risk

Memang tidak ada salahnya langsung masuk ke perdangangan saham dan cryptocurrency secara langsung. Apalagi tahun ini sedang gencar-gencarnya informasi bersliweran di medsos dengan iming-iming screenshot portofolio hijau dan profit tinggi. Namun, sebagai investor pemula sebaiknya kita mawas diri. Di dalam peluang profit yang tinggi, tersembunyi peluang kerugian yang tinggi pula.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kita harus tau produk yang kita beli. Tentunya kita tidak ingin membeli kucing dalam karung bukan. Kenali juga resiko yang kita hadapi ketika kita berinvestasi. Tak henti-hentinya saya tekankan bahwa jangan menggunakan dana sehari-hari untuk diletakkan pada instrumen investasi. Sebaiknya gunakan “uang dingin” untuk berinvestasi. Jadi jika sewaktu-waktu ada yang salah dengan investasi kita, atau kita mengalami kerugian maka tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap kondisi finansial kita sehari-hari. Don’t invest your money affraid to lose.

Reksadana Bisa Jadi Jawaban

Salah satu produk investasi yang cocok bagi investasi pemula adalah produk investasi reksadana. Jenis reksadana apa yang cocok untuk pemula ? Tenang. Tidak usah bingung ferguso. Teman-teman bisa download Bibit. Sebuah aplikasi yang sudah terdaftar OJK untuk berinvestasi dengan segudang manager investasi yang telah terpercaya. Teman-teman juga bisa memasukkan kode referal szu1mop biar bisa dapet cashback 25 ribu rupiah. Pada aplikasi bibit, anda akan disesuaikan profil resikonya dan diberikan pilihan jenis reksadana yang cocok dengan profil resiko masing-masing.

Artikel tentang Bibit bisa juga dibaca disini ya : https://dds.web.id/2021/03/mau-kaya-dijegal-semesta/

Selamat berinvestasi !




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.